Jan
27
2011

Pemberdayaan Perempuan Pengrajin Gerabah di Kabupaten Pacitan untuk Meningkatkan Perekonomian Keluarga dan Mendukung Pengembangan Pariwisata Daerah

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk merumuskan dan menerapkan model pemberdayaan perempuan pengrajin gerabah di Desa Purwoasri Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan untuk meningkatkan perekonomian keluarga dan mendukung pengembangan pariwisata daerah.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan dukungan data kualitatif dan kuantitatif. Teknik cuplikan yang digunakan adalah purposive sampling dan snowball. Data terdiri atas data primer dan data sekunder. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam, pengamatan lapangan, metode simak dan diskusi kelompok terarah (Focus Guide Discussion). Data dianalisis dengan teknik analisis model interaktif, internal-eksternal dan tematik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Pacitan memiliki potensi untuk mengembangkan kerajinan gerabah sebagai komoditas unggulan daerah Kabupaten Pacitan. Permasalahan yang dihadapi oleh perempuan pengrajin gerabah di Kabupaten Pacitan antara lain berkaitan dengan bahan baku pembuatan gerabah seni, SDM, desain, model, pewarnaan dan finishing, peralatan produksi, promosi dan pemasaran, serta permasalahan lingkungan hidup.

Kebutuhan perempuan pengrajin gerabah di Kabupaten Pacitan terutama berkaitan dengan upaya mengembangkan kapasitas dan kompetensi di bidang pembuatan kerajinan gerabah. Selama ini kegiatan usaha di bidang pembuatan kerajinan gerabah telah mampu meningkatkan perekonomian keluarga para perempuan pengrajin. Selain itu juga telah dilakukan upaya oleh pihak-pihak terkait (stakeholder) untuk memberdayakan perempuan pengrajin gerabah di Kabupaten Pacitan. Proses dan hasil produksi kerajinan gerabah telah direncanakan untuk dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata alternatif di Kabupaten Pacitan. Kebijakan dan program Pemerintah Kabupaten Pacitan dalam memberdayakan perempuan pengrajin gerabah untuk meningkatkan perekonomian keluarga dan mendukung pengembangan pariwisata daerah antara lain telah diakomodasi oleh beberapa instansi/dinas/badan pemerintah, seperti Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Pacitan, Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Pacitan, serta Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pacitan.

Model pemberdayaan perempuan pengrajin gerabah di Kabupaten Pacitan untuk meningkatkan perekonomian keluarga dan mendukung pengembangan pariwisata daerah yang disusun bersama dengan seluruh komponen stakeholder di Kabupaten Pacitan adalah “Model Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia” atau Human Resources Competence Improvement Model (HRCIM). Model tersebut menggarisbawahi pentingnya mengupayakan peningkatan kompetensi (pengetahuan dan keterampilan) perempuan pengrajin gerabah dalam menghasilkan produk gerabah seni yang berkualitas sehingga mampu bersaing di pasaran yang lebih luas, baik pasar domestik maupun pasar internasional (ekspor).

Kata Kunci: pemberdayaan perempuan, kerajinan gerabah, pariwisata.

Jan
25
2011

DEVELOPING REVITALIZATION MODEL FOR ETHNIC SETTLEMENT THROUGH INTERPRETATION TO SUSTAIN CULTURAL HERITAGE AND SUPPORT COMMUNITY BASED TOURISM DEVELOPMENT IN SURAKARTA

The objectives of the research were to create a model and make strategies to revitalize ethnic settlement through interpretation to revitalize cultural heritage and support community-based tourism development in Surakarta. This is a qualitative research which were based on primary and secondary data. Data were collected using several techniques including in-depth interview, focus group discussion, site observation, and content analysis. Data were analysed using interactive model of analysis.

Results indicate that the model to revitalize cultural heritage and support community-based tourism development in Surakarta was created based on the participation of all related stakeholders and was called Interpretation Based and Benefit Oriented Model (IBaBOM) which highlights the importance of interpretation and benefit orientation. In order to implement the model some strategies were formulised. They consist of: 1) involving all related stakeholders to implement the model (IBaBOM), 2) making distinct and obvious job distribution for all related stakeholders, 3) socialising the model to all related stakeholders, 4) providing adequate knowledge about the model (IBaBOM), 5) empowering various mass media to support the implementation of the model, 6) monitoring and evaluating the implementation of the model, 7) revising the model to perform a better and more appropriate model,  recommending the revised model (IBaBOM) to all related stakeholders.

Sep
3
2009

PENINGKATAN PENDAPATAN RUMAH TANGGA MELALUI PENGEMBANGAN WISATA PEDESAAN

Oleh: Endang Sri Astuti

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk merumuskan strategi untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui bidang pariwisata. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui metode pengamatan lapangan, wawancara, dan metode simak. Analisis data menggunakan metode interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar terdapat bidang-bidang usaha pariwisata yang telah memberikan peluang usaha kepada masyarakat pedesaan untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga. Pemerintah Kabupaten Karanganyar telah berupaya mengimplementasikan konsep pembangunan pariwisata pedesaan berbasis masyarakat dengan melibatkan masyarakat setempat dalam pembangunan pariwisata di daerah mereka meskipun hasilnya belum optimal. Kendala yang dihadapi adalah terbatasnya modal untuk pengembangan usaha dan terbatasnya lembaga yang memiliki komitmen untuk mengembangkan pariwisata pedesaan guna meningkatkan perekonomian masyarakat. Strategi pemberdayaan perekonomian masyarakat pedesaan di Desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui bidang pariwisata antara lain adalah memfasilitasi masyarakat untuk mengembangkan berbagai usaha terkait, meningkatkan dan mengembangkan jenis produk wisata pedesaan, meningkatkan aksesibilitas menuju objek dan daya tarik wisata pedesaan, dan meningkatkan promosi wisata pedesaan.

Sep
3
2009

PERAN MASYARAKAT KECAMATAN TIRTOMOYO DALAM PENGEMBANGAN DESAIN BATIK WONOGIREN

Oleh: Desy Nurcahyanti

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan latar belakang, serta peran masyarakat dalam pengembangan dan visualisasi desain Batik Wonogiren. Latar belakang tidak terkait langsung secara historis, melainkan faktor-faktor atau hal yang menyebabkan desain batik Wonogiren senantiasa mengalami pengembangan. Peran masyarakat yang dimaksud adalah keterlibatan masyarakat sekitar wilayah penelitian, dan pihak-pihak terkait yang mengetahui seputar Batik Wonogiren. Keterlibatan tersebut meliputi persepsi dan partisipasi dalam meningkatkan, menambah variasi, serta menyebarluaskan desain Batik Wonogiren, melalui jalur perdagangan.

Secara khusus akan mengkaji desain Batik Wonogiren dari sudut pandang keterkaitan kondisi sosial budaya masyarakat Kecamatan Tirtomoyo, dalam pengembangan batik Wonogiren. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh kondisi sosial budaya terhadap konsep dan visualisasi suatu karya, yakni desain Batik Wonogiren. Tujuan khusus lainnya adalah menggali informasi menggunakan metode penelitian baku, serta teknik pengumpulan data dan analisis menyesuaikan perumusan masalah tersurat. Hal tersebut disebabkan karena keberadaan Batik Wonogiren jarang dibahas, ditulis, dan diuraikan secara lengkap pada beberapa sumber pustaka tentang batik.Penelitian ini termasuk studi kasus (kualitatif) yang mengambil lokasi lokasi penelitian yaitu di Kecamatan Tirtomoyo; bentuk penelitian yaitu menggunakan studi kasus tunggal; sumber data meliputi narasumber, dokumen berupa foto, serta data penunjang lain yang di dapat dari berbagai pihak; teknik cuplikan menggunakan purposive sampling; teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dengan narasumber, observasi di lapangan, serta content analysis untuk mengkaji dokumen dan arsip penunjang lainnya; dan teknik analisis data menggunakan analisis interaktif.

Setelah dilakukan analisis, diperoleh simpulan sebagai berikut : (1) Latar belakang keberadaan Batik Wonogiren berawal dari pengembangan desain motif batik gaya Mangkunagaran. (2) Peran masyarakat Kecamatan Tirtomoyo dalam pengembangan desain Batik Wonogiren adalah menghasilkan motif-motif Batik Kreasi Baru dengan remukan Wonogiren. (3) Sosial dan budaya adalah faktor yang saling terkait dan mempengaruhi pengembangan desain Batik Wonogiren. Desain dalam hal ini berperan sebagai “media” atau sarana antara alam pikiran dan realitas pada masyarakat.

Sep
3
2009

PENGEMBANGAN PARIWISATA BUDAYA BERBASIS POTENSI SENI PERTUNJUKAN DAN SENI KERAJINAN

Oleh: Rara Sugiarti

Tourism has a close relationship with arts and culture. On the one hand, arts and culture have contributed a lot to tourism development as they become valuable resources to attract tourists to visit a destination. On the other hand, tourism development has played an important role in conserving and revitalizing arts and culture. Tourism, arts and culture have, therefore, symbiotic relationship. Maintaining the symbiotic relationship is significant to manage and enhance both tourism and arts and culture. This article highlights cultural tourism and its contribution to foster the development and revitalization of arts, including performing arts and local crafts.

Aug
10
2009

Seminar Nasional tentang “PEMBANGUNAN PARIWISATA BERWAWASAN LINGKUNGAN HIDUP”

Pusat Penelitian dan Pengembangan Pariwisata (PUSPARI) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakal (LPPM) Universitas Sebelas Maret Surakarta bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup Rl akan menyelenggarakan kegiatan Seminar Nasional tentang “PEMBANGUNAN PARIWISATA BERWAWASAN LINGKUNGAN HIDUP” pada hari/tanggal : Selasa, 11 Agustus 2009,  bertempat : Hotel “The Sunan” Solo Jl. Ahmad Yani No. 40 Surakarta Telp. 0271-731312.

Jul
30
2009

Ekowisata Lebih Prospektif

cubadakoks

Salah satunya kebutuhan manusia adalah kebutuhan rekreatif. Seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kualitas hidup, maka dalam perkembangannya kebutuhan rekreasi ini telah banyak mengalami perubahan orientasi. Masyarakat yang semakin peduli terhadap masalah-masalah kerusakan lingkungan dan hancurnya tatanan kehidupan masyarakat tradisional, melirik pada hal-hal yang lebih natural.

Fenomena kejenuhan masyarakat terhadap kehidupan industrialis ini memang tidak terjadi di Indonesia secara umum, hanya masyarakat kota besar seperti Jakarta Surabaya, yang merasakan.

Gerusan industrialisasi yang semakin menghancurkan alam dan tatanan sosial dirasakan sekali masyarakat di negara-negara maju, seperti Amerika, Inggris, Jepang, dll.

Indonesia sebagai negara yang memiliki kekayaan sumberdaya alam yang masih alami, menjadi salah satu alternatif wisatawan asing untuk melepaskan kejenuhan mereka terhadap hirukpikuk Industrialisasi ini.

“Fenomena kepedulian masyarakat dunia terhadap pengerusakan lingkungan sebagai akibat proses industrialisasi, hendaknya dapat ditanggkap oleh seluruh pelaku pariwisata di Indonesia”. Merupakan ungkapan Dra. Rara Sugiarti, M. Tourism.

Menurut salah satu aktivis Pusat Penelitian dan Pengembangan Pariwisata (PUSPARI) LPPM UNS ini, ekowisata tidak hanya melulu mengandalkan potensi sumberdaya alam yang alami, tetapi juga potensi-potensi sumberdaya sosial masyarakat lokal yang memiliki lokalitas yang kuat.

Ekowisata yang memang lebih diperuntukkan turis mancanegara ini di Indonesia memiliki potensi yang besar di kembangkan di Indonesia, karena Indonesia sebagai negara yang memiliki keragaman budaya dan juga keragaman flora-fauna menjadi asset yang tak ternilai harganya.

PUSPARI sebagai salah satu Pusat Penelitian dan pengembangan pariwisata telah menjajaki salah satu potensi ekowisata di Gunung Halimun (Jawa Barat) berdasarkan temuan penelitian tersebut kawasan Gunung Halimun ternyata memiliki potensi ekowisata yang besar dan sangat luarbiasa, selain potensi alam yang besar, masyarakat Gunung Halimun yang masih belum banyak berinteraksi dengan modernitas menjadi potensi pariwisata yang menarik, khususnya bagi wisatawan mancanegara. Kekayaan alam dan keragaman budaya seperti di Gunung Halimun, di Indonesia masih banyak yang masih belum terekspos ke publik.”Yang paling penting pengembangan pariwisata ini jangan sampai merusak ekologi lingkungan dan ekologi sosial masyarakat setempat” demikian pesan Dosen fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) UNS tersebut.

Jul
30
2009

EKSPLOITASI KOLONIAL - PERUBAHAN MASYARAKAT DESA HUTAN DI KARESIDENAN REMBANG Th. 1865-1940

Oleh: Warto, Jur. Ilmu Sejarah, FSSR UNS.

Masyarakat desa hutan di Karesidenan Rembang mengalami perubahan penting selama periode 1865-1940. Penelitian ini secara spesifik bertujuan, pertama, mengungkap perubahan social ekonomi dan ekologi desa hutan yang terjadi pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 akibat adanya penetrasi kekuatan eksternal. Kedua, mengungkap terjadinya perubahan akses dan hilangnya hak-hak tradisi penduduk atas sumberdaya hutan. Ketiga, memahami bentuk-bentuk respons dan reaksi penduduk desa hutan dalam menghadapi tekanan structural. Penelitian ini memanfaatkan sumber arsip sezaman, baik yang tersimpan di Negeri Belanda maupun di Indonesia. Sumber arsip yang dimaksud antara lain Memorie van Overgave, arsip Daerah Rembang, arsip Kehutanan, arsip Perkebunan, arsip Algemeen Secretarie, dan arsip Binnenlandsch Bestuur. Di samping itu juga dimanfaatkan beberapa terbitan berbahasa Belanda sezaman, seperti TNI, TBG, BKI, IG, TECTONA, Het Bosch, dan lain-lain. Kemudian publikasi seperti Koloniaal Verslag, Indisch Verslag, Regeeingsalmanak, laporan Mindere Welvaart Commissie, Statsblad, Verslag van den Dienst van het Boschwezen, Volkstelling, dan lain-lain juga dijadikan sumber data. Penelitian ini juga memanfaatkan sumber sejarah lisan, folklore, dan sumber artefak lainnya. Hasil penelitian menunjukkan, selama periode 1865-1940 masyarakat desa hutan mengalami tiga fase perkembangan penting. Pertama, periode 1865-1890 adalah masa transisi dari masyarakat tradisi yang relatif otonom menjadi masyarakat yang teralienasi dan tersubordinasikan; kedua, periode 1980-1920 merupakan masa adaptasi dan penyesuaian-penyesuaian terhadap lingkungan yang berubah. Ketiga, tahun 1920-1940 adalah masa stagnasi dan involusi. Masuknya kekuatan eksternal yang direpresentasikan oleh rezim pemerintah colonial Belanda dan pengusaha swasta asing mengakibatkan terjadinya perubahan structural social ekonomi dan ekologi desa hutan. Muncullah dua gejala yang secara simultan menjadi tekanan baru bagi penduduk desa hutan yaitu tertutupnya akses penduduk atas sumberdaya hutan dan rusaknya lingkungan hutan yang menjadi basis perekonomian desa hutan.

Jun
15
2009

KARIKATUR KARYA G.M SUDARTA DI SURAT KABAR KOMPAS (KAJIAN PRAGMATIK)

Oleh: Slamet Supriyadi, Jur. Pend. Bahasa & Seni FKIP UNS

Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan: (1) Jenis tindak tutur apa saja dan implikatur yang ada dalam wacana karikatur serta jenis tindak tutur yang mendominasi dan mengapa tindak tutur tersebut mendominasi dalam wacana karikatur, (2) Penerapan prinsip kerja sama dan prinsip sopan santun dalam wacana karikatur, (3) Aspek-aspek kebahasaan yang dimanfaatkan dan koheransi antara tema, unsur lingual, citra, dan gambar, dan (4) Pemahaman pembaca dan karikaturis tentang fungsi kemasyarakatan yang ada dalam wacana karikatur. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal terpancang (embedded case study research). Sumber data yang dimanfaatkan dalam penelitian ini adalah keseluruhan karikatur karya G.M. Sudarta yang telah diterbitkan surat kabar Kompas, buku yang diterbitkan Kompas, situs karikatur G.M. Sudarta yang ada di internet yang telah diterbitkan oleh Kompas dan data karikatur yang dimiliki karikaturris (faktor objektif). Sumber data yang berkaitan dengan pemahaman fungsi kemasyarakatan sebuah karikatur, dimanfaatkan informan pencipta karikatur (faktor genetik), sedangkan sumber data yang berkaitan dengan pemahaman pembaca tentang fungsi kemasyarakatan memanfaatkan sumber data informan yang terdiri atas dosen seni rupa, dosen Komunikasi Fisip, guru seni rupa, mahasiswa seni rupa, dan pembaca tetap surat kabar Kompas (faktor afektif). Teknik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel bertujuan (purposive sampling). Sesuai dengan bentuk penelitian kualitatif dan juga jenis sumber data yang dimanfaatkan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah teknik simak dan catat serta wawancara mendalam (in-depth interviewing). Untuk memperoleh derajat validitas data dalam penelitian ini, digunakan teknik triangulasi sumber data. Untuk membuktikan permasalahan yang berkaitan dengan data verbal karikatur digunakan teknik analisis konstektual, sedangkan untuk menganalisis gambar (visual) karikatur digunakan teknik analisis semiotika. Untuk menganalisis faktor karikaturis (faktor genetik), faktor wujud karya dan teks dalam karya (faktor objektif) dan pembaca (faktor afektif), digunakan analisis kritik holistiknya Sutopo (1995). Keseluruhan proses analisis dilakukan melalui proses siklus dengan model interaktifnya Miles dan Huberman, (1984). Berdasarkan analisis dan pembahasan penelitian, dapat disimpulkan bahwa karikatur adalah gambar yang fungsi utamanya adalah kritik untuk perbaikan dan fungsi hiburan/humor. Karikatur G.M. Sudarta yang terdiri atas gambar dan teks sudah ada keterkaitan keduanya yaitu antara tema, aspek kebahasan, citra dan gambar sudah koheren dan memiliki kesatuan makna dalam bingkai konteks ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hankam, dan pendidikan. Jenis tindak tutur yang dimanfaatkan di dalam karikatur adalah jenis tindak tutur komisif, ekspresif, verdiktif, asertif, direktif dan performatif. Jenis tindak tutur fatis dalam teks pendukung tindak dimanfaatkan oleh karikaturis, karena tidak sesuai dengan karakteristik sebagai jenis tuturan yang mengandung kritik, sedangkan jenis tindak tutur yang mendominasi dalam wacana karikatur G.M. Sudarta adalah jenis tindak tutur direktif. Berdasarkan cara penyampaiannya atau bentuk tindak tuturnya, jenis tindak tutur yang dimanfaatkan oleh karikaturis adalah bentuk tindak tutur langsung. Namun demikian, karikaturis juga memanfaatkan jenis tindak tutur tidak langsung, sedangkan berdasarkan makna tindak tutur karikaturis memanfaatkan jenis tindak tutur literal dan tidak literal. Di dalam wacana eksplikatur tersirat makna implikatur Di dalam menerapkan prinsip kerja sama, karikaturis melanggar prinsip kerja sama maksim kuantitas, kualitas, relevansi dan maksim pelaksanaan/ cara. Pelanggaran maksim-maksim dalam wacana karikatur semata-mata bukan untuk membingungkan atau mempersulit pemahaman pembaca, melainkan demi tujuan kritik kepada sasaran kritik melalui tuturan yang melanggar kaidah prinsip kerja sama agar lebih bernuansa humor dan menghibur. Sedangkan prinsip kesopanan yang diterapkan dalam wacana karikatur meliputi maksim kebijaksanaan, kecocokan, kesimpatian dan maksim kerendahan hati. Prinsip kesopanan maksim kedermawanan dan maksim penerimaan tidak dimanfaatkan dalam wacana karikatur ini disebabkan karakter dari karikatur itu sendiri. Aspek kebahasaan yang dimanfaatkan meliputi, aspek fonologi, frasa, kata, kalimat dan wacana yang tampak koheren dengan gambar. Dalam memahami fungsi kemasyarakatan sebuah karikatur antara karikaturis dan pembaca ada sedikit perbedaan pemahaman dalam menafsirkan makna yang terkandung dalam teks dan gambar karikatur yaitu dalam hal fungsi saran. Disarankan: (1) kepada karikaturis dalam - menciptakan karikatur hendaknya selalu mempertimbangkan etika kesopanan yang didasari oleh latar belakang budaya dan keyakinan sasaran kritik maupun sasaran pembacanya, meskipun dalam hasil penelitian ini karikaturis sudah menerapkan etika dalam gambar karikaturnya. Dengan memperhatikan hal tersebut diharapkan tidak akan menimbulkan konflik dan gejolak di masyarakat. Jangan mencontoh perilaku karikaturis dunia Barat yang hanya mengedepankan faktor ekspresi dan logika semata tanpa mempedulikan dampak yang akan ditimbulkan setelah karikatur itu dibaca oleh masyarakat, seperti karikatur yang dimuat di surat kabar terbitan negara-negara Eropa yang menimbulkan dampak luar biasa terhadap masyarakat dunia Islam, termasuk di Indonesia, (2) kepada sasaran kritik sebuah karikatur hendaknya lebih lapang dada dan menjadikan kritik sebagai pembelajaran dan mawas diri agar ke depan bisa lebih berhati-hati dalam membuat kebijakan publik, dan menjadikan kritik sebagai sarana introspeksi, sehingga selalu amanah terhadap kepercayaan rakyat.

Jun
13
2009

Inovasi Media Pembelajaran Matakuliah Gambar Proyeksi Melalui Program Multimedia 3D S-MAC

Oleh: Mulyanto,  Kristiandi.
Fakultas KIP UNS, Penelitian, Dikti, Penelitian untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran, 2007

Masalah penelitian ini yaitu bagaimana menyusun media pembelajaran yang inovatif untuk matakuliah gambar proyeksi yang mampu meningkatkan mutu proses pembelajaran, mutu output-nya, serta dapat diterapkan sesuai kondisi di Program Studi Pendidikan Senirupa? Tujuan penelitian adalah (1) terciptanya media pembelajaran matakuliah gambar proyeksi yang menggunakan program multimedia power point clan 3Ds-MAC, yaitu yang tampilannya berupa gambar 2 dan 3 dimensi, dapat bergerak, dan didukung suara; (2) Media tersebut setelah digunakan dalam pembelajaran diharapkan mampu meningkatkan mutu proses pembelajaran matakuliah gambar proyeksi dan meningkatkan mutu hasil belajar matakuliah gambar proyeksi yang diperoleh mahasiswa. Metode penelitian ini dilakukan dengan model penelitian pengembangan, yaitu materi media disusun, media disusun di laboratorium, media dikaji oleh 2 orang teman sejawat yang kompeten, media diujicobakan pada 10 mahasiswa, media direvisi sesuai masukan, media diujicobakan lagi, dan akhirnya media direvisi akhir. Temuan penelitian yaitu (1) Tercipta 9 media pembelajaran multimedia yang terdiri atas media gambar proyeksi titik, gambar proyeksi bidang, gambar proyeksi benda balok, gambar proyeksi benda limas alas segi empat, gambar proyeksi kulit benda dibuka, gambar proyeksi benda diguling kekiri, gambar proyeksi benda diguling kedepan, gambar proyeksi benda diguling serong, dan gambar proyeksi benda dipotong. (2) Tampilan gambar dalam media yang disenangi oleh mahasiswa/responden antara lain: setiap garis proyeksi dalam media diwarna yang berbeda dengan warna garis lainnya; kecepatan gerakan garis cenderung pelan (3 detik s.d. 5 detik); setiap gerakan garis lengkung harus ditunjukkan titik sumbunya; setiap tampilan gambar sebaiknya dimunculkan per bidang gambar agar informasi yang diberikan media lebih jelas; dan setiap tampilan gambar sebaiknya dimunculkan soal ringkasannya.

Kata kunci : gambar proyeksi, 3Ds-MAC, inovasi media.