KARIKATUR KARYA G.M SUDARTA DI SURAT KABAR KOMPAS (KAJIAN PRAGMATIK)

Oleh: Slamet Supriyadi, Jur. Pend. Bahasa & Seni FKIP UNS

Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan: (1) Jenis tindak tutur apa saja dan implikatur yang ada dalam wacana karikatur serta jenis tindak tutur yang mendominasi dan mengapa tindak tutur tersebut mendominasi dalam wacana karikatur, (2) Penerapan prinsip kerja sama dan prinsip sopan santun dalam wacana karikatur, (3) Aspek-aspek kebahasaan yang dimanfaatkan dan koheransi antara tema, unsur lingual, citra, dan gambar, dan (4) Pemahaman pembaca dan karikaturis tentang fungsi kemasyarakatan yang ada dalam wacana karikatur. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal terpancang (embedded case study research). Sumber data yang dimanfaatkan dalam penelitian ini adalah keseluruhan karikatur karya G.M. Sudarta yang telah diterbitkan surat kabar Kompas, buku yang diterbitkan Kompas, situs karikatur G.M. Sudarta yang ada di internet yang telah diterbitkan oleh Kompas dan data karikatur yang dimiliki karikaturris (faktor objektif). Sumber data yang berkaitan dengan pemahaman fungsi kemasyarakatan sebuah karikatur, dimanfaatkan informan pencipta karikatur (faktor genetik), sedangkan sumber data yang berkaitan dengan pemahaman pembaca tentang fungsi kemasyarakatan memanfaatkan sumber data informan yang terdiri atas dosen seni rupa, dosen Komunikasi Fisip, guru seni rupa, mahasiswa seni rupa, dan pembaca tetap surat kabar Kompas (faktor afektif). Teknik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel bertujuan (purposive sampling). Sesuai dengan bentuk penelitian kualitatif dan juga jenis sumber data yang dimanfaatkan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah teknik simak dan catat serta wawancara mendalam (in-depth interviewing). Untuk memperoleh derajat validitas data dalam penelitian ini, digunakan teknik triangulasi sumber data. Untuk membuktikan permasalahan yang berkaitan dengan data verbal karikatur digunakan teknik analisis konstektual, sedangkan untuk menganalisis gambar (visual) karikatur digunakan teknik analisis semiotika. Untuk menganalisis faktor karikaturis (faktor genetik), faktor wujud karya dan teks dalam karya (faktor objektif) dan pembaca (faktor afektif), digunakan analisis kritik holistiknya Sutopo (1995). Keseluruhan proses analisis dilakukan melalui proses siklus dengan model interaktifnya Miles dan Huberman, (1984). Berdasarkan analisis dan pembahasan penelitian, dapat disimpulkan bahwa karikatur adalah gambar yang fungsi utamanya adalah kritik untuk perbaikan dan fungsi hiburan/humor. Karikatur G.M. Sudarta yang terdiri atas gambar dan teks sudah ada keterkaitan keduanya yaitu antara tema, aspek kebahasan, citra dan gambar sudah koheren dan memiliki kesatuan makna dalam bingkai konteks ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hankam, dan pendidikan. Jenis tindak tutur yang dimanfaatkan di dalam karikatur adalah jenis tindak tutur komisif, ekspresif, verdiktif, asertif, direktif dan performatif. Jenis tindak tutur fatis dalam teks pendukung tindak dimanfaatkan oleh karikaturis, karena tidak sesuai dengan karakteristik sebagai jenis tuturan yang mengandung kritik, sedangkan jenis tindak tutur yang mendominasi dalam wacana karikatur G.M. Sudarta adalah jenis tindak tutur direktif. Berdasarkan cara penyampaiannya atau bentuk tindak tuturnya, jenis tindak tutur yang dimanfaatkan oleh karikaturis adalah bentuk tindak tutur langsung. Namun demikian, karikaturis juga memanfaatkan jenis tindak tutur tidak langsung, sedangkan berdasarkan makna tindak tutur karikaturis memanfaatkan jenis tindak tutur literal dan tidak literal. Di dalam wacana eksplikatur tersirat makna implikatur Di dalam menerapkan prinsip kerja sama, karikaturis melanggar prinsip kerja sama maksim kuantitas, kualitas, relevansi dan maksim pelaksanaan/ cara. Pelanggaran maksim-maksim dalam wacana karikatur semata-mata bukan untuk membingungkan atau mempersulit pemahaman pembaca, melainkan demi tujuan kritik kepada sasaran kritik melalui tuturan yang melanggar kaidah prinsip kerja sama agar lebih bernuansa humor dan menghibur. Sedangkan prinsip kesopanan yang diterapkan dalam wacana karikatur meliputi maksim kebijaksanaan, kecocokan, kesimpatian dan maksim kerendahan hati. Prinsip kesopanan maksim kedermawanan dan maksim penerimaan tidak dimanfaatkan dalam wacana karikatur ini disebabkan karakter dari karikatur itu sendiri. Aspek kebahasaan yang dimanfaatkan meliputi, aspek fonologi, frasa, kata, kalimat dan wacana yang tampak koheren dengan gambar. Dalam memahami fungsi kemasyarakatan sebuah karikatur antara karikaturis dan pembaca ada sedikit perbedaan pemahaman dalam menafsirkan makna yang terkandung dalam teks dan gambar karikatur yaitu dalam hal fungsi saran. Disarankan: (1) kepada karikaturis dalam - menciptakan karikatur hendaknya selalu mempertimbangkan etika kesopanan yang didasari oleh latar belakang budaya dan keyakinan sasaran kritik maupun sasaran pembacanya, meskipun dalam hasil penelitian ini karikaturis sudah menerapkan etika dalam gambar karikaturnya. Dengan memperhatikan hal tersebut diharapkan tidak akan menimbulkan konflik dan gejolak di masyarakat. Jangan mencontoh perilaku karikaturis dunia Barat yang hanya mengedepankan faktor ekspresi dan logika semata tanpa mempedulikan dampak yang akan ditimbulkan setelah karikatur itu dibaca oleh masyarakat, seperti karikatur yang dimuat di surat kabar terbitan negara-negara Eropa yang menimbulkan dampak luar biasa terhadap masyarakat dunia Islam, termasuk di Indonesia, (2) kepada sasaran kritik sebuah karikatur hendaknya lebih lapang dada dan menjadikan kritik sebagai pembelajaran dan mawas diri agar ke depan bisa lebih berhati-hati dalam membuat kebijakan publik, dan menjadikan kritik sebagai sarana introspeksi, sehingga selalu amanah terhadap kepercayaan rakyat.

Kami Mendengarkan Anda