Posts tagged: Pati

Pengembangan Model Revitalisasi Batik Bakaran Pati

Oleh : Slamet Supriyadi, Penelitian Hibah Bersaing DIKTI TA. 2007, Jur. Pend. Bahasa & Seni FKIP UNS

Penelitian yang dilaksanakan dalam tiga tahap ini secara umum bertujuan untuk menghidupkan dan mengembangkan kembali industri batik Bakaran Kecamatan Juwana yang produknya mampu mengambil peran aktif dalam Sapta Pesona Pariwisata. Sedangkan yang menjadi tujuan khusus pada tahap pertama ini adalah mendiskripsikan hal yang berkaitan dengan potensi Sumber Daya Manusia, Potensi jaringan bisnis batik Bakaran saat ini, potensi pariwisata yang terkait langsung dengan produk batik Bakaran, serta mengidentifikasi upaya yang telah dilakukan untuk menumbuhkembangkan kembali industri batik Bakaran. Metode penelitian yang digunakan pada tahap pertama ini bersifat eksploratif terhadap berbagai potensi yang terkait dengan industri batik Bakaran di kecamatan Juwana kabupaten Pati, serta upaya berbagai pihak dalam melakukan revitalisasi. Untuk tujuan tersebut telah dilakukan penggalian data dan informasi dari berbagai sumber dengan metode diskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini data digali dari sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer terdiri dari para informan yang terdiri atas : pengusaha batik, buruh batik, Kepala Desa Bakaran, Tokoh masyarakat, Juru Kunci Peninggalan Nyai Ageng Danowati, Tokoh Budayawan Pati, Pejabat Diperindagkop (Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi), Dishubpar. (Dinas Perhubungan dan Pariwisata). Sedangkan Data sekunder berujud dokumen, arsip yang berkaitan dengan batik Bakaran dan kepariwisataan di Kabupaten pati. Teknik pengumpulan dan penjaringan data penelitian ini, memanfaatkan teknik wawancara mendalam, observasi dan analisis dokumen. Sedangkan untuk menjamin keabsahan data digunakan teknik triangulasi sumber data. Untuk menganalisis data dimanfaatkan teknik analisis model interaktif atau Interactive Model of Analysis. Berdasarkan temuan penelitian dan pembahasannya yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan berikut di bawah ini. 1. Keberadaan Batik Bakaran saat ini tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat tentang tokoh legenda mereka yaitu Nyai Ageng Danowati, tokoh dari Kerajaan Majapahit yang ahli membuat kerajinan batik, dan masyarakat Desa Bakaran masih percaya tentang pantangan tidak boleh melakukan proses Medel dalam membatik. Mereka takut mendapat musibah dan kutukan Nyai Ageng Danowati. Keberadaan batik Bakaran tidak terlepas dari masyarakat pendukungnya khususnya pengrajin dan pengusaha batik, yang semakin berkurang dengan alasan hasil kerja membatik tidak sepadan dengan tingkat kesulitannya, dibandingkan dengan bekerja sebagai buruh tambak atau sebagai buruh kerajinan kuningan yang di Juana memang terkenal banyak menyerap tenaga kerja. 2. Dalam bidang ekonomi, menejemen UKM masih konvensional dan lemah, tidak ada sistem administrasi dan pembukuan yang baik kekurangan dan kelemahan ini lebih disebabkan karena kurangnya pengetahuaan mereka tentang menejemen hal itu menyebabkan hal berikut. a. Karena tidak ada pembukuan yang baik, maka dalam perhitungan pembiayaan produksi tidak pernah memasukkan nilai bangunan dan tanah, alat produksi yang dipakai dalam perhitungannya, sehingga pada dasarnya mereka tidak tahu secara persis keuntungan yang diperoleh dan hasil usaha yang ditekuni. b. Tingkat upah buruh kurang memadai dibandingkan dengan tenaga yang dikeluarkan, artinya penghasilan mereka dianggap kurang mampu menutup kebutuhan sehari-hari sistem pengupahan yang berdasarkan borongan dan pembayarannya kalau pekerjaan sudah jadi. c. Jaringan bisnis yang ada merupakan jaringan tradisional sejak pengadaan bahan baku hingga pasar. Belum ada lembaga sejenis koperasi yang dapat mengatasi masalah produksi dan pasar. d. UKM belum memanfaatkan kegiatan pariwisata daerah untuk meningkatkan promosi dan produksi bagi usaha mereka. 3. Dalam Bidang Pariwisata, Kabupaten Pati sebenarnya memiliki potensi pariwisata yang dapat dikembangkan. Posisi geografis, budaya yang hidup di masyarakat, memungkinkan dapat dikembangkan menjadi objek wisata yang potensi. Semua obyek wisata yang ada saat ini sangat mudah untuk diakses wisatawan. Hal ini karena sarana dan prasarana sudah cukup memadai. Dalam bidang kepariwisataan di Kabupaten pati masih diperlukan pusat informasi pariwisata yang memadai sehingga akan memudahkan memasukan Pati dan Bakaran dalam paket wisata yang berskala nasional dan internasional. Batik Bakaran yang memiliki ciri khas dan sudah terkenal sejak lama belum diolah menjadi produk yang mampu berperan sebagai pengisi atraksi wisata budaya yang menarik. Demikian juga sebaliknya Desa Bakaran belum diolah menjadi Desa Wisata budaya dalam bidang seni batik yang diharapkan mampu menyedot wisatawan domestik maupun Mancanegara sehingga diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitarnya. 4. Revitalisasi yang sudah dilakukan oleh Pemerintah. Untuk menjaga eksistensi dan berkembangnya agar industri batik Bakaran tetap ada dan tidak punah, maka peran pemerintah sangat membantu untuk tetap melestarikan keberadaan industri batik di Bakaran dengan jalan mewajibkan memakai seragam batik produk batik Bakaran setiap hari Kamis dan Jum’at bagi PNS dan sekarang sudah merambah di tingkat murid SLTP di Kabupaten Pati. Selain peran pemerintah yang lebih utama dalam merevitalisasi industri batik Bakaran difokuskan pada sumber daya manusia pengrajinnya, sebab ditemukan dalam penelitian ini SDM pengrajin semakin berkurang karena banyak di antara pengrajin yang beralih profesi karena menganggap pekerjaan sebagai pembatik kurang menjanjikan dibanding pekerjaan yang lain di daerah Juana misalnya buruh tambak atau buruk kuningan. Demikian juga tidak berminatnya generasi muda pembatik yang perlu di dorong dan disosialisasikan bahwa profesi membatik sangat menjajikan dari segi finansial sekaligus sebagai upaya revitalisasi industri Batik yang ada di bakaran.